HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

 ANAK TIDAK PUNYA CITA-CITA. NORMALKAH?

By On Mei 07, 2026

CURHAT: Saya ibu dari dua orang anak remaja. Dua-duanya perempuan. Yang besar kelas 2 SMA dan yang bungsu kelas 3 SMP.  Saat santai saya bertanya kepada anak-anak saya, mereka cinta-citanya mau jadi apa nanti setelah besar?

Dengan penuh semangat anak bungsu saya spontan menjawab, “Mau jadi pengusaha kosmetik. Biar bisa tetap cantik tanpa harus keluar biaya.” Saya geli dengar jawabannya. Si Bungsu ini memang agak centil. Dia suka sekali pinjam dan mencoba-coba alat kosmetik saya. Saya tidak pernah larang, karena menurut saya mungkin dia bisa memiliki skill ber-make up dengan cara mencoba-coba sendiri. Saya kasih acungan jempol untuk cita-citanya itu.

Tapi saat saya tanya kakaknya, dia masih diam saja. Ketika saya desak, apa citanya? Dia bilang, “Aku nggak punya cita-cita!”  suaranya tegas dan penuh keyakinan, Bukan seperti anak yang masih ragu dengan apa yang dia mau di masa depannya. Tentu saya kaget sekali. Dia selama ini sekolah rajin dan selalu berprestasi di sekolahnya. Kok bisa nggak punya cita-cita?

Saya coba bujuk, “Mungkin kamu belum punya cita-cita yang pasti, tapi setidaknya kamu ingin hidup seperti apa nantinya?” Dia menggeleng. “Saya nggak tau mau jadi apa, saya mau jalani aja apa yang ada.” Setelah menjawab seperti itu, dia berdiri dan masuk ke kamarnya. 

Terus terang saya resah dengan jawaban anak sulung saya itu. Saya coba diskusikan dengan suami, awalnya suami agak kaget juga dengarnya, tapi kemudian dia bilang, “Nggak apa-apa dia belum punya cita-cita, yang penting dia semangat sekolah.”

Walau ucapan suami cukup menenangkan pikiran saya, namun saya masih merasa cemas. Apa saya kurang memotivasi anak saya sehingga dia sampai tidak punya cita-cita di usianya yang sudah menginjak remaja.

Bersama ini saya ingin mohon saran, kira-kira apa yang sebaiknya saya lakukan sebagai seroang Ibu, untuk mendampingin anak-anak saya, agar  mereka memliki masa depan yang cemerlang dan bisa mandiri secara ekonomi.

Terimakasih.

Monik – Surabaya

SARAN: Sebagai seorang ibu tentu Anda ingin anak-anak Anda memiliki masa depan yang cemerlang. Dan tanda-tanda seorang anak memiliki masa depan cemerlang antara lain dengan memiliki cita-cita yang tinggi dan jelas. Misalnya menjadi pengusaha, menjadi insinyur ataupun dokter.

Dan ketika seorang anak belum memiliki cita-cita di usianya yang sudah menjelang remaja, tentu orangtua akan merasa khawatir. Karena seakan anak tidak memiliki masa depan. Karena tanpa cita-cita bagaimana ia bisa meraih masa depannya?

Kami sangat memahami  kekhawatiran Anda. Namun tidak perlu terlalu cemas ataupun panik, karena anak yang belum memiliki cita-cita adalah hal yang sangat wajar. 

Bisa jadi anak Anda masih asyik dengan dunianya saat ini. Dia belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa itu masa depan. Ia masih dalam fase eksplorasi.  Ia belum memiliki minat yang pasti pada hal atau bidang tertentu. Masih sering berubah-ubah.

Sebetulnya, cita-cita bukanlah kewajiban kaku. Melainkah sebuah petunjuk arah yang masih bisa berubah seiring dengan waktu. 

Lalu bagaimana orang tua harus bersikap kepada anaknya yang belum memiliki cita-cita?  Yang pasti hindari untuk memaksakan kehendak sebagai ajang pemenuhan ambisi orangtua. Misalnya, orangtua gagal menjadi dokter lalu memaksa anaknya untuk menjadi seorang dokter. 

Sebaiknya, beri ruang dan kesempatan yang luas kepada anak-anak untuk mencoba berbagai aktivitas guna menemukan minat dan bakat mereka. Bila sedang ada waktu luang, gunakan untuk  berbincang santai dengan anak-anak tentang hal-hal yang menyenangkan bagi mereka. Lalu hargai setiap usaha dan minat mereka. 

Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, empati dan dukungan, semoga anak-anak Anda bisa merajut masa depannya dengan penuh semangat, bahagia dan berhasil. Tetap semangat!

Iustrasi: Pinterest

#masadepananak

#cita-citaanak

#anak-anakdancita-cita

#anaktanpacita-cita

#cita-cita

#anak 

ANAK SUKA FLEXING ALASANNYA BIKIN HARU

By On Oktober 01, 2025


CURHAT: Saya ibu rumah tangga dengan dua orang anak perempuan usia remaja. Satu di SMA satunya lagi masih SMP. 

Anak kami yang SMA miliki hobi yang makin hari makin membuat saya & suami khawatir. Dia aktif sekali di medsos & selalu upload apa pun kegiatannya. 

Saat kami makan di resto, dia selalu foto makannya lalu upload & jadi status di medsosnya. Beli kopi, ice cream, belanja baju, sepatu bahkan aksesoris sepotong pun selalu dia upload. 

Saya pernah menegur: untuk apa sih Nak selalu harus mengabarkan apapun kegiatan kamu? Belum tentu juga orang tertarik. 

Dia jawab: Kalau nggak gitu teman2 aku anggap aku cupu, nggak gaul & nggak pernah nyobain hal2 yg lagi ngehits. Selain itu Mama Papa juga dianggap sebagai ortu yang gak mampu, begitu jawabnya.

Saya & suami jadi terharu dengar jawabannya, sekaligus khawatir; dia jadi anak yg sombong & suka pamer. Tapi setiap kali ditegur dia selalu menjawab seperti itu. Bahkan adiknya juga pernah bilang kalau si kakak kayak orang kecanduan like. Kalau ada temannya kasih like postingannya, dia langsung semangat & berusaha cari hal lain yang bisa diposting, begitu kata adiknya.

Bagaimana ya cara menghentikan hobi flexing anak kami ini ya? Mohon saran. Terimakasih.

Rainar - Bandung

SARAN: Kami sangat memahami masalah yang Anda hadapi. Memiliki anak usia remaja, perempuan maupun laki-laki sama-sama tantangan yang lumayan berat. 

Namun kalau dilihat penjabaran Anda, apa yang putri Anda lalukan masih dalam taraf wajar. Dia hanya upload barang atau kegiatan yang benar ia lakoni & barang yang ia miliki. Kecuali ia sampai memaksakan diri upload sesuatu yang bukan milik dia. Pinjam milik teman, misalnya. 

Melarang kegiatan yang sedang ia sukai, bukanlah hal gampang. Anak usia remaja umumnya makin dilarang dia makin merasa tertantang untuk melakukan. Lalu bagaimana? Apakah dibiarkan saja? Tentu tidak. Sebagai orangtua yang bijak semestinya kita bisa memberi arahan kepada ananda tercinta.

Misalnya mengarahkan hobi flexingnya itu menjadi kegiatan yang positif bahkan produktif. Menghasilkan penghasilan, yang mungkin awalnya tidak banyak, tapi kalau ditekuni bisa jadi pemasukan yang lumayan. 

Caranya, karena dia suka pamer barang yang dia baru beli, baik makanan hingga aksesori, dia bisa jadikan itu lahan bisnis. Keaktifannya di medsos dimanfaatkan. Makanan & minuman mungkin masih bisa dianggap hobi saja. Mulailah membeli  baju, sepatu, tas & aksesori yang digemari teman2 sebayanya, lalu upload, kalau ada yang bilang bagus & berminat, lalu tanya beli di mana? Nah, itu sebuah peluang, bilang: kamu bisa pesan ke saya. 

Putri Anda bisa membuka jasa jastip (jasa titip) atau menjadi reseller. Dia tetap bisa menyalurkan hobinya belanja, flexing, tapi juga memulai belajar berbisnis.

Sebuah kesempatan bisa dimanfaatkan, dari hal yang tadinya hanya mengeluarkan uang menjadi bisa menghasilkan uang. 

Semoga saran ini bisa membantu. Anda bisa memberi solusi kepada putri tercinta sekaligus ‘menciptakan’ seorang calon pengusaha. Tetap semangat!

Foto: Pixels/ Nataliya Vaitkevich

#anaksukaflexing

#hobiflexing

#manfaatkanflexing

#flexing


 ENGGAN SILATURAHMI KE RUMAH CAMER

By On Maret 29, 2025


CURHAT: Hari Raya Idul Fitri menjelang orang lain senang, saya bingung. Bukan karena karena masalah finansial atau lainnya, tapi keharusan dari calon suami untuk berkunjung ke rumah orangtuanya yang kebetulan satu kota dengan saya. 

Baru beberapa bulan lalu saya dilamar oleh kekasih. Sebetulnya ayah dan bunda calon suami saya baik. Mereka menerima saya dengan tangan terbuka. 

Yang menjadi ganjelan adalah calon kakak ipar. Calon suami saya hanya berdua saudara, dan kakaknya perempuan. Dia wanita karier yang sukses dan belum menikah. 

Kalau kebetulan kami bertemu, misalnya ada acara keluarga calon suami dan saya diundang, dia terang-terangan memperlihatkan sikap kurang suka dengan saya. Dia menyindir-nyindir penampilan saya. Di lain kesempatan dia pura-pura nggak melihat saat saya tegur. Pernah juga dia menyindir saya karena saya datang terlambat saat ada acara syukuran di rumahnya. Ibunya pernah menegur dengan cara menyenggol lengannya, tapi dia seperti tak peduli.

Calon suami cenderung takut dengan kakaknya itu. Calon suami pernah cerita kalau dia segan dengan kakaknya itu, karena kakaknya yang banyak membantu finansial dia saat masih kuliah. 

Lebaran tahun lalu saya masih bisa menghindar tidak hadir di acara silaturahmi keluarga besar calon suami, karena kami belum resmi tunangan. 

Namun Lebaran kali ini saya sulit menghindar, karena sudah resmi dilamar. Jujur saya enggan sekali untuk datang. Malas sekali bertemu dengan calon kakak ipar yang bersikap kurang bersahabat. 

Waktu saya curhat ke calon suami kalau saya ‘takut’ ketemu kakaknya, calon suami menanggapi dengan enteng: emang dia mau gigit kamu kok takut? Santai aja. 

Mohon saran, bagaimana saya harus bersikap saat bertemu dia? Apakah saya datang sebentar saja  ke rumah calon mertua dengan alasan ada acara keluarga lain? 

Dan bagaimana menyiapkan mental saat nanti sudah menikah. Saya khawatir dia akan ‘lebih galak’ dan ‘mendominasi’ keluarga kecil kami? 

Ditunggu sekali sarannya. Terimakasih.

Qilana – Jaksel

SARAN: Sungguh kami simpati dengan masalah yang sedang Anda hadapi. Terbayang bagaimana bingungnya Anda. Tidak silaturahmi rasanya tidak mungkin, karena sudah resmi sebagai calon menantu. Tapi kalau silaturahmi takut gak kuat kalau dinyinyirin calon kakak ipar.

Langkah Anda sudah benar dengan menceritakan kegundahan Anda kepada calon suami. Kalau dia menanggapi dengan santai begitu, belum tentu dia tidak peduli masalah Anda. Tapi mungkin karena dia sendiri tidak tahu harus memberi saran apa.

Jadi sebaiknya Anda membuka kembali pembicaraan lagi masalah ini. Sampaikan bahwa Anda cemas sekali kalau harus berhadapan dengan kakaknya. Coba bilang ke tunangan Anda: bagaimana kalau dia bersikap cuek aja sama kakaknya itu? Dan bagaimana kalau Anda akan berusaha menyingkir aja kalau kakaknya itu mulai menyindir-nyindir? 

Dengan kata lain, Anda membawa ‘rencana strategi’ dalam diskusi itu. Mudah-mudahan dengan rencana sikap yang akan Anda perlihatkan saat nanti bertemu calon kakak ipar, calon suami Anda bisa memberikan saran yang lebih afdol apa yang sebaiknya Anda lakukan, karena dia pasti lebih kenal sifat kakaknya.

Intinya menghadapi seseorang yang kurang suka dengan kita, sebaiknya tidak memperlihatkan rasa takut padanya. Sikap hormat itu harus, tapi sesuai porsinya saja. Misalnya kalau tradisi di keluarga calon suami ‘wajib’ salim atau cium tangan kepada yang lebih tua atau dihormati, lakukan itu. 

Selebihnya, Anda tidak harus duduk atau berdiri dekatnya. Bila calon suami duduk di dekat dia Anda bisa duduk di tempat yang agak jauh. Mungkin Anda bisa mengajak ngobrol anggota keluarga calon suami yang sikapnya netral. 

Usahakan jangan menjawab bila disindir oleh kakak calon suami itu. Jawab dengan senyum saja. Setelah itu pelan-pelan melipir menjauh dari dia.

Anda harus bersikap percaya diri. Bahwa adiknya memilih Anda sebagai calon istri, pasti karena Anda memiliki kelebihan. Dan kalaupun calon suami Anda pernah mendapat bantuan finansial saat kuliah, itu adalah urusan calon suami Anda dengan kakaknya.

Setelah menikah, pastikan tinggal terpisah dari mertua dan kakak ipar. Dan itu harus dibicarakan dengan calon suami Anda sejak sekarang. Ini permasalahan yang harus dibahas secara serius. 

Kalau calon suami seperti menghindar membicarakan hal ini, Anda harus tegas mengatakan: kita harus bicarakan hal ini sekarang atau keluarga kita akan terancam bubar hanya karena intervensi orang luar!

Mudah-mudahan dengan sikap yang jelas dan perencanaan matang saat sudah resmi menikah nanti, kehidupan rumah tangga Anda akan berjalan baik. Usahakan singkirkan dulu duri-duri yang akan mencederai keutuhan rumah tangga Anda, sebelum pernikahan berlangsung. 

Semoga Anda lebih siap dan lebih pede bersilaturahmi ke rumah camer setelah membaca saran kami ini. Selamat Idul Fitri. Selamat bersilaturahmi.***

Ilustrasi: Pinterest

Baca juga: Mengurus Rumah Tangga Tanpa ART Masih Dituduh Pemalas oleh Ibu Mertua

#silaturahmicalonmertua

#masalahcalonkakakipar

#calonmertua

#calonkakakipar

#silaturahmi

#idulfitri

#hariraya


ORANGTUA SUKA BERTENGKAR

By On Januari 28, 2025


CURHAT: Mungkin masalah saya ini terdengar seperti nggak penting banget. Karena dalam perkawinan mana sih yang suami istri tidak pernah bertengkar? Sehingga awalnya saya merasa nggak pede untuk meminta pendapat di majalah ini.

Tapi setelah saya pikir-pikir, kenapa nggak mencari pendapat ahli yang mungkin bisa memberi pandangan yang baik untuk saya saat ini, dan masa depan saya nantinya.

Saya (21) seorang mahasiswi tingkat akhir sebuah perguruan tinggi swasta. Selain sebagai mahasiswi saya juga bekerja paruh waktu sebagai agent property. 

Saat ini saya masih tinggal dengan kedua orangtua saya. Saya anak pertama dari dua saudara. Adik saya juga wanita dan masih SMU. Ayah kami pensiunan perusahaan swasta sedang Ibu pernah bekerja sebagai sekretaris tapi sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga penuh.

Meski pernikahan orangtua kami sudah seperempat abad, tapi keduanya sering bertengkar. Kadang hanya karena hal-hal kecil membuat mereka saling teriak dan membuat kami anak-anaknya tidak nyaman. 

Saya pribadi melihat Ayah maupun Ibu tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing merasa benar. Kalau sudah bertengkar biasanya Ibu menangis di kamar. Saya dan adik merasa kasihan sekali melihatnya. Menurut kami Ibu adalah istri yang kurang  dihormati dan dihargai suami. Ayah saya sering melecehkan Ibu dengan kata-kata yang menyakitkan. Intinya Ayah terlalu egois, maunya dimengerti tapi tidak mau mengerti Ibu.

Tidak jarang saya juga adik menyarankan Ibu untuk berpisah saja dari Ayah, karena kami juga tidak tahan kalau melihat Ibu merasa tertekan dan tidak bahagia sepanjang pernikahannya. Tapi Ibu tetap bertahan, ia tidak mau bercerai dengan alasan di keluarga besarnya tidak ada yang bercerai, dan tidak mau merepotkan kami anak-anaknya nanti kalau menikah. Misalnya, siapa nanti yang harus mendampingi di pelaminan kalau orangtua kami berpisah dan masing-masing sudah menikah lagi.

Saya tidak pernah berani menegur Ayah yang sering kasar kepada Ibu, karena Ayah  termperamental, baru sedikit saja anaknya bicara (protes) dia sudah marah besar dan membuat kami anak-anaknya takut. Jadi kalau Ayah dan Ibu bertengkar, saya dan adik hanya bersembunyi sambil ketakutan di kamar dan berdoa-doa agar emosi mereka segera mereda dan tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan.

Melihat pernikahan orangtua kami yang kurang harmonis, membuat saya agak takut menghadapi perkawinan. Saya khawatir kisah hidup Ibu saya akan terjadi pada saya. Saya tidak ingin masuk dalam pernikahan yang tidak bahagia, yang membuat saya menderita lahir dan batin. 

Saya sampai saat ini masih belum tertarik untuk menjalin hubungan asmara, meski ada beberapa teman pria berusaha mendekati saya. Saya merasa belum siap. Bagi saya pertengkaran kedua orangtua saya membuat saya trauma: tidak dihargai oleh suami adalah sebuah penderitaan yang tidak terkira. 

Mohon saran, bagaimana cara saya bersikap ketika kedua orangtua saya berengkar, apakah kami anak-anaknya berhak untuk mendamaikan? 

Dan bagimana menghilangkan trauma dalam diri saya tentang pernikahan? Karena saya juga tidak ingin hidup sendiri terus sampai tua. 

Mohon bantuannya. Terimakasih banyak.

Devi – Semarang

SARAN: Sikap Anda sudah benar untuk berusaha mencari bantuan atas masalah yang Anda hadapi. 

Kondisi pernikahan kedua orangtua Anda mungkin tidak seburuk yang Anda bayangkan. Karena benar seperti yang Anda katakana, suami istri mana sih yang tidak pernah bertengkar. Terbukti juga pernikahan kedua orangtua Anda bisa bertahan hingga 25 tahun.

Namun mungkin yang perlu dipahami, masing-masing rumah tangga ada saja ujiannya. Dan masing-masing pasangan berbeda gaya berkomunikasinya. 

Bisa jadi gaya komunikasi orangtua Anda adalah dengan cara penuh emosi, nada tinggi dan kadang saling meremehkan. Walaupun itu sangat tidak baik bagi kesehatan sebuah hubungan, tapi tidak sedikit keluarga yang demikian. 

Sangat bisa dimengerti sebagai anak Anda merasa tidak berdaya, mengingat ayah Anda tipikal pria emosional. Namun sebagaimana pemarahnya seorang ayah ada momen yang mungkin dia tidak akan marah kepada anaknya. Misalnya, saat dia sedang ulangtahun, saat dia sedang sakit, saat dia sedang mendapat berita gembira atau kesuksesan. 

Nah di momen itu mungkin sebagai anak sulung, Anda bisa bicara sedikit dengan ayah Anda. Misalnya,  betapa bangganya Anda kepada beliau. Sebagai ayah beliau penuh tanggung jawab. Cuma yang kadang bikin Anda takut adalah saat Ayah marah, terutama marah ke Ibu. Tidak perlu Anda membela Ibu dalam percakapan itu, karena bisa jadi dia akan merasa Anda berpihak kepada Ibu. 

Tapi dengan bicara seperti itu diharapkan dia akan mengurangi sifat emosionalnya. Jadi berkurang frekwensi marahnya dan bertengkar dengan Ibu Anda. 

Soal trauma bisa jadi hal itu menghinggapi Anda mengingat bertahun-tahun kondisi ini Anda alami. Namun Anda jangan melihat pernikahan orangtua Anda sebagai satu-satunya gambaran pernikahan yang ada di dunia ini. Cobalah lihat di sekitar Anda. Pastilah ada pernihahan yang harmonis, pasangan yang saling mencintai dan menghargai.

Bila Anda melihat sifat Ayah Anda yang emosional dan mau menang sendiri, jadikan itu sebagai acuan dalam Anda memilih pasangan. Usahakan untuk mengenai calon pasangan hidup Anda dengan baik. Cari tahu bagaimana cara dia bergaul dalam keluarga, di lingkungan kampus hingga di tempat kerjanya. Dengan demikian Anda memiliki referensi yang cukup untuk tahu bagaimana sikap dia sehari-hari dan bagaimana dia kalau sedang ada masalah dan dalam tekanan.

Selain itu, coba bicara baik-baik dengan Ayah juga dengan Ibu tentang rasa tidak nyaman saat mereka sedang bertengkar, bersikaplah sebagai anak yang memperlihatkan kasih sayang kepada kedua orangtua Anda. 

Mereka berdua sudah beranjak tua, tentu kadang banyak sikap atau prilaku mereka yang kadang menjengkelkan. Bahkan kadang sudah seperti anak kecil, mau menang sendiri. Cobalah pahami. Beri mereka perhatian dan sesekali ajak mereka berdua atau salah satu (bergantian) untuk ngobrol di luar rumah dengan santai. Ngobrol tentang masa depan Anda dan harapan-harapan Anda saat sudah berumah tangga nanti. 

Semoga dengan menyayangi mereka berdua, suasana keluarga Anda lebih adem dan nyaman. Tentu jangan lupa untuk mendoakan mereka agar diberi ketenangan dan kedamaian hati, juga doa untuk diri sendiri agar diberi pasangan yang membuat Anda nyaman dan bahagia. Tetap semangat!***

Foto ilustrasi: Timur Weber/Pexels

Baca juga: Orangtua Bercerai Anaknya Kemungkinan Besar Juga Bercerai?

#orangtuasukabertengkar

#masalahorangtua

#kehidupanberkeluarga

#traumakeluarga

#rumahtangga

#pertengkaran

#orangtua 

 NGGAK TERTARIK DENGAN PRIA LOKAL

By On November 16, 2024

CURHAT: Saya (25) wanita bekerja dan masih sendiri. Saat ini saya sedang berusaha mencari teman hidup. Namun sejujurnya, saya kurang bahkan tidak tertarik sama sekali dengan pria lokal. 

Bukan saya tergila-gila pada pria asing, namun alasannya lebih kepada pengalaman hidup saya sendiri saja.

Saya anak bungsu dari dua saudara, kakak saya juga perempuan dan sudah menikah beberapa tahun lalu. 

Dalam urusan pekerjaan saya termasuk lancar. Begitu selesai kuliah saya langsung mendapat pekerjaan dan sekarang posisi saya di kantor juga lumayan bagus.

Namun masalah jodoh saya masih dalam proses pencarian. Ada sih beberapa teman kantor atau teman kuliah yang pernah mencoba mendekati saya, tapi saya merasa kurang sreg.

Saya perhatikan para pria kita kurang memahami bagaimana memperlakukan wanita. Mungkin karena masyarakat kita patriakat, sehingga sudah tertanam di bawah sadarnya bahwa pria harus mendominasi dalam berbagai hal. Termasuk saat menjadi suami, mereka harus diladeni semua kebutuhannya oleh istri. Meskipun istrinya juga bekerja di luar rumah.

Hal itu terjadi dalam kehidupan saya. Ibu saya wanita bekerja, tapi sebelum berangkat kerja beliau selalu menyiapkan sarapan untuk Ayah. Pulang bekerja juga harus menyiapkan makan malam untuk Ayah. Sementara Ayah tidak pernah sekalipun meladeni Ibu, bahkan saat Ibu sedang sakit pun, Ayah hanya menyuruh-nyuruh Ibu minum obat. Tapi tidak pernah saya lihat Ayah mengambilkan obat ataupun sekadar membuatkan minum untuk Ibu.

Demikian juga dengan kakak ipar saya. Dia selalu seperti menuntut kakak saya untuk membuatkan kopi ataupun sarapan. Kalau kakak saya sibuk dan tidak sempat membuatkan kopi untuk suaminya saat mau berangkat ke kantor. Kata kakak saya, sepanjang jalan menuju ke kantor (kebetulan mereka selalu berangkat bersama karena kantornya satu arah) suaminya akan mendiamkan kakak saya. 

Melihat kenyataan seperti itu, saya jadi terpikir untuk tidak memilih pasangan hidup pria lokal. Saya merasa pria lokal mayoritas tidak menghargai pasangannya. Lebih banyak menuntut istri untuk menjadi ‘pelayan’ ketimbang sebagai partner hidup.

Ketika saya sampaikan niat saya ini ke Ibu, beliau marah dan menganggap saya sombong. Beliau bilang bahwa tidak akan memberi restu bila saya memilih pasangan pria asing. 

Terus terang saya jadi sedih dan bingung. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Bukankah memilih jodoh adalah hak saya, mengapa saya harus menuruti kemauan orangtua?

Mohon sarannya. Saya tunggu sekali. Terimakasih banyak.

Lilyan – Bandung

SARAN:Terimakasih sudah mempercayakan masalah Anda kepada kami. Kegusaran Anda sangat bisa dimengerti. Karena pengalaman hidup Anda memperlihatkan hal yang kurang menyenangkan, membuat Anda ingin mengubah langkah agar hal tersebut tidak terjadi pada Anda.

Memilih pasangan memang bukan hal yang mudah. Apalagi bagi Anda yang terbiasa mandiri dalam mengambil keputusan di kantor maupun mandiri secara finansial. 

Bila Anda menganggap pria lokal kurang menarik bagi Anda, mungkin karena kebetulan yang Anda lihat atau hadapi selama ini adalah mereka yang tidak sesuai dengan kriteria Anda.

Intinya Anda mendambakan pasangan yang bisa jadi partner serta memiliki sikap yang menghargai serta memperlakukan wanita dengan romantis. Kalau Anda anggap pria asing semua seperti itu, tampaknya Anda perlu berpikir ulang.

Memang betul umumnya pria Barat lebih berani mengungkapkan perasaannya sehingga terlihat romantis. Karena memang budaya Barat demikian. Mereka lebih terus terang dan ekspresif. Adalah hal biasa bagi mereka mengucapkan rasa sayang, rasa cinta, secara langsung maupun melalui bunga ataupun kado-kado kecil yang romantis.

Selain itu, mereka memang lebih mau bekerja sama dengan pasangannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal itu karena memang dalam budaya Barat anak perempuan maupun laki-laki memiliki tugas yang sama dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 

Sehingga para pria Barat umumnya trampil memasak dan membersihkan rumah ataupun mencuci piring, sehingga mereka tidak berkeberatan melakukan semua pekerjaan domestik itu saat mereka sudah berumah tangga. Dan bagi wanita Timur yang umumnya memiliki pasangan yang jauh dari urusan pekerjaan rumah tangga, sangat mengagumi para pria dengan sikap demikian.  

Apalagi ada budaya di sebuah negara Eropa yang para suami terbiasa ‘momong anak’ keluar rumah. Mereka santai saja jalan-jalan ke mall atau nongkrong di kafe sambil bawa anak dengan kereta bayi. Sebuah pemandangan yang mungkin sangat asing bagi kita di Indonesia.

Padahal ada juga pria Barat yang mendambakan pasangan wanita dari Asia, dengan harapan bisa mendapatkan perlakuan seperti yang diterima oleh pria Timur pada umumnya: diladeni semua keperluannya dan tidak dituntut untuk mengerjakan pekerjaan domestik oleh istrinya.

Pria Timur, khususnya pria Indonesia, memang tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, karena memang pola asuhnya berbeda dengan pola asuh keluarga di Barat. Di Indonesia anak laki-laki tidak umum mendapat tugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hanya sedikit sekali keluarga Indonesia yang menerapkan pendidikan anak laki-laki maupun perempuan harus membantu pekerjaan rumah tangga. Karena di Indonesia masih banyak keluarga yang memiliki ART (asisten rumah tangga). Suatu hal yang amat jarang dimiliki di keluarga Barat. 

Saran kami pertimbangkan keinginan Ibu Anda tanpa harus mengorbankan kriteria pasangan yang Anda inginkan. Dari sekian banyak pria lokal yang mengharap istrinya meladeni setiap keperluannya, tentu ada pria yang memperlakukan istrinya dengan manis dan romantis. Serta menganggap istri adalah partner hidup yang patut diapresiasi dengan baik apapun yang dikerjakan istrinya. 

Biasanya pria yang demikian datang dari keluarga yang demokratis dengan pendidikan yang baik.  Atau mereka yang pernah belajar dan tinggal di luar negeri. Sehingga pola piker mereka pun sudah berbeda dengan pria lokal.

Dengan membuka hati dan pergaulan seluas-luasnya, serta memohon kepada Sang Pencipta, semoga Anda bisa bertemu dengan pasangan yang sesuai dengan  kriteria Anda sekaligus keinginan Ibunda tercinta. Tetap semangat!***  

Foto ilustrasi:Burcu Elmas/Pexels

#mencaripasanganyangsesuai

#kriteriapasanganhidup

#priabaratlebihromantis

#tidaktertarikprialokal

#priatimur

#priabarat

 


 TEMAN KANTOR BB GIMANA CARA BILANGINNYA?

By On September 08, 2024

CURHAT: Saya wanita bekerja usia 28 tahun. Baru-baru ini ada teman baru di kantor. Dan ternyata dia akan ditempatkan di bagian yang sama dengan saya, yakni di bagian finance. Kebetulan memang saya masih sendiri di bagian finance, jadi rasanya senang sekali akan ada teman di ruangan mungil yang selama ini hanya saya tempati sendiri.

Waktu berkenalan di ruang serbaguna kantor, saya merasa dia akan jadi teman baik saya; orangnya ramah dan murah senyum.

Namun begitu kami satu ruangan dan ketika kami duduk berdekatan, saya mulai merasa kurang nyaman. Aroma tubuhnya terasa menyengat, apalagi kalau dia baru datang dan sesudah istirahat makan siang. Saya merasa sangat terganggu. Dia sendiri sepertinya tidak menyadari bahwa aroma tubuhnya membuat orang lain terganggu. 

Dengan alasan agak flu, saya besoknya memakai masker selama di dalam ruangan dengannya. Diam-diam beberapa teman kantor juga sudah mulai kasak-kusuk soal bau badan (BB) teman baru ini. 

Mereka mendesak saya untuk bicara dengannya. Tapi bagaimana caranya?

Sungguh ini dilemma untuk saya. Tidak saya tegur saya tersiksa, karena kami berada di dalam ruangan saya sama. Kalau saya tegur dia pasti akan merasa sangat tersingggung dan malu, mungkin dia akan mengundurkan diri.  

Padahal soal pekerjaan dia cukup bagus, saya sangat terbantu dengan adanya dia di bagian finance. Kami bisa saling tik tok menangani pekerjaan. 

Adakah cara yang aman untuk menegur dia tanpa membuat dia merasa tersinggung dan menyadari BB serta mau menggunakan deodoran?  

Sangat ditunggu jawabannya. Terimakasih banyak.

Wiwiq – Depok

SARAN: Memang masalah BB ini sangat sensitif. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya membuat orang terganggu akan aroma tubuhnya. Mungkin kalau keluarganya sudah merasa terbiasa, sehingga tidak merasa terganggu. Jadi tidak ada yang pernah menegur dia.

Sangat bisa dimengerti dilemma Anda, karena menegur orang yang BB bukanlah hal yang mudah. Karena tidak semua orang merasa siap saat disinggung masalah yang sangat sensitif ini. Salah bicara bisa membuat dia sangat tersinggung dan marah kepada kita.

Lalu bagaimana caranya? 

Mungkin Anda bisa mengatur strategi ini, yang mudah-mudahan membuat dia tersadar dan mau menggunakan deodoran secara teratur. 

Sebagai teman satu ruangan, sesekali ajak dia pulang kantor ke mall. Ngopi atau sekadar  cuci mata. Lalu Anda pura-pura ingat deodoran dan sabun mandi Anda sudah hampir habis. Ajak dia ke toko yang menyediakan kebutuhan Anda tersebut.

Sambil milih-milih bilang, “Saya kebantu banget lho pakai deodoran dan sabun ini. Rasanya badan terasa segar, nyaman dan percaya diri. Karena aku yakin aku nggak akan BB kalau menggunakan secara teratur. Bahaya kan kalau kita cewek sampai BB, jangankan cowok temen cewek aja males dekat sama kita.” 

Bisa ditambahkan juga bahwa sejak haid pertama hingga saat ini, ibu Anda selalu mengingatkan selama masa haid harus minum jamu kunyit asam yang dicampur dengan daun sirih. Selain untuk menurangi rasa sakit perut saat haid, juga untuk membuat darah tidak berbau begitu juga aroma tubuh.  

Jadikan diri Anda sebagai objek, seakan Anda merasa aroma tubuh Anda bermasalah dan Anda mengatasinya dengan cara itu. 

Mudah-mudahan dengan demikian dia menjadi sadar bahwa sebagai wanita kita sangat perlu merawat tubuh. Antara lain menjaga aroma tubuh kita agar tidak mengganggu orang.

Selamat mencoba. Tetap semangat!***

Foto ilustrasi: Pexel

CURHAT:email majalahwanita8@gmail.com

#mengatasimasalahbaubadan

#menegurtemanyangbaubadan

#temanbaubadan

#wanitadanbaubadan

#baubadan

#bb

 INGIN ANAK MANDIRI DAN PERHATIAN KE ORANGTUA

By On Juli 30, 2024

CURHAT: Saya seorang ibu dengan dua anak usia remaja, yang besar laki-laki dan yang bungsu perempuan. 

Baru-baru ini saya membaca di media sosial ada sepasang suami istri manula yang meninggal tanpa diketahui oleh keluarga juga tetangganya. Hingga saat diketemukan kondisinya sudah sangat mengenaskan.

Sebagai seorang ibu saya menangis membaca berita seperti itu. Sedih sekali rasanya. Sungguh tidak menyangka di masa yang penuh kemudahan untuk berkomunikasi, anak-anak yang tinggal tidak terlalu jauh dari orangtuanya, tidak menyempatkan untuk berkunjung dan menengok orangtua mereka secara teratur. Setidaknya satu bulan sekali datang ataupun berkabar setidaknya satu kali sehari.

Suatu hari saya sengaja  membicarakan hal itu dengan suami di depan anak-anak, dengan harapan mereka mendengar dan menjadi sindiran untuk mereka. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu peduli, tetap sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sedangkan suami saya menanggapi dengan singkat: pasti  anak-anaknya memiliki alasan sendiri hingga jarang berkunjung ke orangtua mereka.

Saya dan suami termasuk yang rajin berkunjung ke orangtua kami masing-masing saat mereka masih hidup. Walaupun orangtua saya dan mertua tinggal di luar kota.

Namun anak-anak masih kecil saat kami berkunjung ke rumah kakek dan nenek mereka, sehingga mungkin mereka sudah lupa suasana saat kami mengunjungi orangtua kami masing-masing.

Sejauh ini sih sikap anak-anak kami baik dan hormat serta patuh kepada kami orangtuanya. Jadi sebetulnya tidak ada alasan untuk merasa khawatir mereka akan bersikap cuek kepada kami setelah mereka mandiri.

Tapi entah mengapa sudah beberapa waktu ini saya tetap merasa khawatir, bagaimana yang kalau anak-anak juga menantu kami nantinya cuek? Saat kami sudah tua, kangen dengan mereka tapi mereka sibuk dengan urusannya masing-masing? Sungguh saya tak bisa membayangkan rasanya kalau itu terjadi dengan kami.

Ketika saya coba bicarakan dengan suami, dia hanya menjawab: jangan terlalu dipikirkan, berdoa saja agar mereka tetap sayang dan hormat kepada orangtua.

Terus terang saya selalu mendidik anak-anak untuk mandiri. Sengaja kami tidak memiliki ART agar mereka bisa terampil mengurus keperluannya masing-masing. Kecuali saat merka sedang sibuk ujian atau sakit, baru saya bantu, misanya menyiapkan seragam juga sarapan mereka.

Kekhawatiran saya adalah saat mereka sudah mandiri mereka jadi tidak merasa perlu kami lagi dan merasa terganggu kalau kami minta ketemu ataupun datang ke tempat tinggal mereka. 

Inginnya  saya, anak-anak kami harus mandiri tapi juga tetap sayang dan perhatian kepada kami orangtuanya. Apakah itu mungkin? Bagaimana caranya mendidik anak-anak zaman sekarang agar mereka bersikap seperti itu?

Mohon sarannya. Terimakasih.

Adiati – Jambi

SARAN: Kekhawatiran Anda sangat bisa dimengerti. Karena kondisi itu bukan tidak mungkin dialami oleh para orangtua masa kini. Dimana komunikasi sudah sangat canggih, sehingga berkabar lewat pesan singkat saja sudah dirasa cukup. Dan untuk datang menengok langsung atau bersilaturahmi menjadi hal yang makin lama makin langka.

Namun di balik kekhawatiran Anda ada positifnya, Anda sudah mulai berjaga-jaga. Jadi tidak hanya menerima nasib: bagaimana nanti saja. 

Bagaimana pun pendidikan anak dimulai sejak mereka lahir hingga orangtua tiada. Kasih sayang, nasihat dan bimbingan orangtua tetap diperlukan saat mereka masih memiliki orangtua. 

Kasih sayang orangtua tidak hanya dengan bersikap penuh perhatian kepada anak-anak, namun juga dengan selalu mengingatkan: hal-hal apa saja yang sebaiknya mereka lakukan dan tidak lakukan, juga sikap mereka kepada orangtua.

Jadi apa yang Anda terapkan saat ini kami rasa sudah baik. Yang perlu ditambah mungkin adalah bagaimana agar mereka tetap perhatian dengan orangtua, meski mereka sudah mandiri dan tidak lagi berada tinggal bersama orangtrua.

Ada hal yang kadang dilupakan oleh orangtua, terutama saat anak-anak usia praremaja, remaja dan dewasa; yakni minta tolong kepada anak. Apakah itu pekerjaan rumah tangga atau hal lain yang berkaitan dengan tehnologi. Intinya, jangan segan untuk minta bantuan anak-anak. 

Kalaupun mereka agak menggerutu karena mungkin mereka sedang sibuk belajar atau sedang asyik chatting dengan temannya, tetaplah minta tolong. Meskipun mungkin mereka tidak langsung mengerjakannya. Sabar saja sampai mereka sempat mengerjakan apa yang Anda minta bantuan. Kecuali ada hal-hal penting yang harus dilakukan saat itu juga, kalau perlu Anda minta tolong dengan suara agak keras. 

Bisa jadi Anda kadang tidak sabar dengan respon anak yang lama, akhirnya Anda kerjakan sendiri. Dan itu seringkali terjadi. 

Mungkin hal seperti ini dianggap sepele: minta tolong anak, karena lama responnya, langsung diambil alih saja. Karena hal itu menjadi hal yang membiasa; anak jadi tidak terbiasa membantu orangtua. 

Hal-hal seperti ini akan menjadi bibit-bibit anak cuek kepada orangtua. Karena toh orangtua seperti tidak memerlukan bantuan mereka. Toh orangtuanya bisa mengerjakan semua sendiri.

Kalau ada yang berpikir: yah nanti setelah mereka dewasa pasti akan berbeda, apalagi setelah mereka punya anak, pasti akan lebih perhatian kepada orangtuanya. Tidak ada yang bisa menjamin!

Jadi saran kami untuk mulailah mengetuk hati anak-anak untuk lebih mau membantu dan perhatian kepada orangtua, yakni dengan membiasakan mereka sejak kecil. Bagaimana pun ada pepatah lama yang mengatakan: ala bisa karena biasa. Sehingga tertanam di benak mereka bahwa membantu orangtua adalah hal yang biasa untuk mereka lakukan, bukan sekadar saat diminta bantuan saja.

Selain itu, saat anak bersikap cuek atau kurang baik kepada Anda sebagai orangtua, jangan hanya menyimpan sendiri. Tegurlah dengan baik-baik, agar mereka paham apa yang  dianggap baik dan tidak baik bersikap kepada orangtua,  

Karena sering orangtua mengeluh dengan kelakuan anaknya yang kurang baik kepada mereka, tapi tidak mau atau tidak tega untuk menegur anaknya. Padahal itulah tugas orangtua untuk mengarahkan bagaimana seharusnya  mereka bersikap kepada orangtua. Dan saat anak-anak bersama orangtualah pembentukan karakter mereka. 

Mudah-mudahan dengan Anda menerapkan saran kami, kasih sayang Anda sebagai orangtua juga menjadi bagian dari apa yang ingin anak-anak Anda curahkan kepada Anda. Tentu selain menerapkan pendidikan yang baik, seperti saran suami Anda, jangan putus mendoakan anak-anak. Semoga mereka menjadi manusia yang mandiri, berguna bagi sesama, berbakti  dan penuh kasih sayang kepada orangtua.***

Foto ilustrasi: Pexels

#mendidikanakanak

#anakberbaktikepadaortu

#kasihsayanganakkepadaortu

#anak-anakdanorangtua

#perhatiankepadaorangtua

#anak-anak

#orangtua

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *