HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

TERAPI DIARY MENCEGAH DEPRESI

 

Pandemi yang belum bisa diprediksi kapan berakhir, sudah menghancurkan hampir semua sektor ekonomi. Hal ini membuat banyak orang mengalami stress bahkan depresi.

Kondisi ekonomi yang menekan dan minim kesempatan untuk menyalurkan hobi di luar rumah, membuat banyak orang uring-uringan. Gabut. Akhirnya menulis hal-hal yang konyol di medsos. Menuliskan status yang menyinyiri orang lain, kelompok, agama dan negara.

Padahal risiko yang harus dbayar sangat mahal. Depresi tidak terobati malah harus menjalani hukuman di balik jeruji.

Kalau saja dorongan untuk menulis itu disalurkan secara tepat, stress berkurang, depresi terhindar dan hidup pun makin tenang.

Menulis itu menyehatkan

Kenapa mereka menuliskan hal-hal konyol di medsos? Kenapa tidak bisa menahan diri untuk nyinyir?

Ternyata, karena dorongan untuk menumpahkan beban di dada sudah tak tertahankan, sehingga mereka memerlukan penyaluran. Sayangnya, mereka tidak mempertimbangkan bahwa ‘hasil karya’ mereka itu akan menyinggung pihak lain bahkan institusi.

Hasil penelitian dari para pakar kesehatan jiwa pernah dituangkan di Jurnal Advance in Psychiatric pada tahun 2005, yang menyebutkan bahwa menulis adalah terapi yang baik untuk kesehatan mental.

Karena menulis dapat meningkatkan suasana hati dan menjauhkan stress serta depresi. Saat menulis seseorang dapat menenangkan emosinya. Sebab dengan menulis seseorang bisa mencurahkan segala pikiran yang ada, sehingga bisa meringankan beban pikiran.

Selain bermanfaat untuk kesehatan jiwa, menulis juga dapat menyehatkan fisik yakni membantu fungsi paru-paru serta menurunkan tekanan darah.

Dulu diary kini medsos

Beberapa dekade lalu generasi muda belum mengenal gadget. Sarana untuk mengisi waktu luang dan menumpahkan perasaan bukan smartphone dan sosmed tapi buku diary. Ya diary adalah ‘sahabat sejati’. Karena diay teman curhat yang tidak akan pernah berkhianat.

Agar rahasia paling dalam yang sudah tertuang di diary tidak sampai diketahui orang lain, bahkan ortu sendiri, maka diary pun dilengkapi dengan kunci (gembok kecil). Buku diary bisa ditemukan ortu atau saudara di rumah, tapi isinya tak bisa diintip, karena kunci tersimpan rapi di tas atau tempat tersembunyi.

Era berganti tradisi pun berubah. Sekarang remaja bahkan orang dewasa menumpahkan isi hatinya di diary yang bisa dibaca  oleh semua orang. Makin banyak yang baca dan kasih like makin merasa bangga. Padahal yang diungkap adalah sesuatu  yang mestinya menjadi rahasia pribadi ataupun keluarga.

Lalu esensi bahwa menulis itu bisa menjadi terapi jiwa tidak tercapai.  Hanya membuat lega  sesaat, tapi tak menyelesaikan masalah, bahkan mungkin menghadirkan masalah baru. 

Karena ternyata, yang membaca tidak semua orang yang bersimpati, ada juga yang merasa terganggu dan tak suka, sehingga komentarnya pun malah menyakitkan: mengejek, merendahkan bahkan menghina.

Akibatnya, curhat di medsos bukannya menghilangkan stres malah menimbulkan depresi.

Kembali ke diary

Bahwa kebutuhan untuk menyalurkan beban batin adalah nyata. Terutama ketika kondisi sedang serba menekan dan lingkungan tidak mendukung untuk membantu secara pribadi maupun profesional.

Mungkin ada baiknya kembali ke masa muda dahulu; menulis diary dengan catatan tidak untuk dipublikasikan. Sarananya bisa saja smartphone yang selalu ada  di tangan. Ketika beban sedang memenuhi pikiran, tulis dan tuangkan saja apa adanya.

Mau berupa kemarahan, kekecewaan, ketidaksenangan bahkan caci maki yang paling keji pun. Yang penting bisa membuat tekanan batin Anda berkurang dan Anda merasa lega

Setelah selesai, simpan filenya di drive yang hanya Anda yang mengetahui password-nya.

Bisa juga Anda menulis curahan hati di buku biasa, tak perlu khusus buku diary,  yang penting Anda bisa bebas menulis dan bisa disimpan aman di lokasi yang hanya Anda tahu. 

Sesekali ketika Anda ingin mengevaluasi diri, Anda bisa baca kembali. 

Ditanggung Anda akan merasa bangga pada diri sendiri, karena berhasil menguasai diri dengan tidak menumpahkan kekesalan dan kekecewaan dengan cara yang konyol, tapi dengan cara aman dan hasilnya: Anda tenang, tekanan berkurang dan depresi pun pergi.*** MK

Foto: Pexels/Karolina Grabowska

#mengatasidepresi

#menulisterapijiwa

#curhatdimedsos

#curhatdidiary

#caraamanatasistress

#terapimenulis

#menulis

#curhataman

#terapidiary

#terapijiwa

#curhat

#stress

#depresi

#terapi

#diary

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *