HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

DIAKAH KARTINI DI MASANYA?

Wanita bungsu dari 8 bersaudara itu berangkat merantau dari kampung halamannya, sebuah desa yang asri di lereng gunung Marapi, Sumatra Barat, menuju Yogyakarta.

Di Kota Pelajar itu dia mengambil pendidikan Bidan di sebuah rumah sakit swasta kenamaan di Yogyakarta. Setelah selesai pendidikan, dia berencana mengembangkan kariernya di Jakarta. Maka dia pun melamar kerja di Rumah Sakit Umum Pusat di Jakarta, yang kini kita kenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 

Lamarannya diterima. Dan ia pun sudah bersiap-siap untuk pindah ke Jakarta. Kebetulan, ada kakak kandungnya yang tinggal di Jakarta, sehingga ia tidak perlu mencari tempat tinggal selama ia bekerja di Jakarta nantinya.

Namun jalan hidupnya berbelok, ketika seorang dokter senior, mantan gurunya di Sekolah Bidan, menawarkan untuk bekerja di Lampung. Menurut gurunya itu, Lampung masih membutuhkan banyak tenaga bidan. Jadi dia bisa mengabdi di daerah yang benar-benar membutuhkan tenaga medis. 

Kala itu, sekitar tahun 50-an, daerah Lampung masih belum seramai sekarang. Masih banyak hutan, dan untuk menuju ke daerah yang jauh dari ibukota provinsi, harus melewati jalan yang masih dipenuhi monyet-monyet bersantai di tengah jalan.

Tergerak hati wanita itu untuk mengabdikan diri di daerah yang masih membutuhkan banyak tenaga medis profesional. Ia pun menyingkirkan keinginannya untuk berkarier di kota besar, dan memilih mengabdi di kota kecil di daerah Lampung. 

Wanita yang fasih berbahasa Belanda, hobi nonton film dan membaca novel-novel berbahasa Belanda itu, dengan iklas menjadi Bidan di sebuah kota keci di pesisir selatan Lampung,  bernama Kota Agung. Tugasnya tidak hanya di dalam kota tapi juga ke kampung-kampung sekitarnya. Sebagian besar harus ditempuh mengggunakan sampan, karena harus melewati sungai besar. 

Pernah suatu kali setelah menyeberangi sungat yang deras, ia bertanya kepada Bapak pendayung sampan, “Di sungai ini ada buayanya, Pak?” spontan Bapak itu menjawab, “Untung Ibu tidak tanya saat masih di tengah sungai tadi, pamali. Karena buayanya bisa datang mendekati sampan kita.” 

Selain aktif  membantu ibu-ibu hamil atau ibu-ibu yang akan melahirkan, wanita itu juga aktif memberi edukasi kepada para wanita dewasa yang akan menikah. Dia selalu mengingatkan: “Sebagai istri nantinya, Anda harus memiliki penghasilan sendiri, berapa pun jumlahnya. Kalau tidak, untuk membeli satu buah peniti pun Anda harus minta ke suami. Belum tentu diberi, bisa jadi malah dimarahi.  Jadi wanita itu perlu mandiri secara ekonomi.“ Begitu selalu pesannya.

Dia kemudian mendapat tugas ke rumah sakit yang lebih besar di kota Pringsewu, Lampung. Dan ketika pemerintah RI menggalakkan program KB (Keluarga Berencana), wanita itu mengisi waktu luangnya, sepulang dari bekerja di RS,  memberikan penyuluhan dari rumah ke rumah kepada para ibu muda yang sudah memiliki dua atau tiga orang anak, untuk mengikuti KB. Ia menyarankan kepada para ibu itu, agar jangan membiarkan diri terus hamil dan  melahirkan. Apalagi kalau kondisi ekonomi tidak memadai.  Sehingga anak tidak terurus, rumah tangga tidak terurus dan diri sendiri juga tidak terurus.   

Menurutnya, ibu-ibu itu juga berhak untuk mengurus diri sendiri, tidak hanya melulu mengurus anak dan suami. “Wanita juga perlu memelihara dirinya agar tetap fit dan cantik.” 

Ketika wanita itu berpulang ke Sang Pencipta dalam usia 80-an, begitu banyak orang yang merasa kehilangan. Karena ia dikenal sebagai bidan yang ringan tangan membantu secara iklas pasien yang tidak mampu, membantu pendidikan anak-anak kurang mampu dengan memberi beasiswa tanpa ikatan apa pun. Banyak anak-anak yang berdagang makanan sepulang sekolah, kalau menjajakan dagangan di depan rumah ibu bidan itu, selalu diborong dagangannya. Tujuannya, agar anak itu bisa segera pulang, bermain dengan teman-temannya dan belajar. 

Meski namanya hanya dikenal di daerah tempat tinggalnya, di daerah di mana bakti dan jiwa sosialnya ia curahkan untuk masyarakat sekitarnya, namun rasanya dia tepat bila disebut sebagai Kartini di masanya. Nilai-nilai yang dia anut selaras dengan cita-cita Kartini: memberdayakan wanita Indonesia! 

Dia memang patut dikenang, setidaknya oleh saya, salah satu anaknya. 

Selamat Hari Kartini wanita-wanita hebat Indonesia.***MH

Foto ilustrasi: Pinterest

#harikartini

#kartinidimasanya

#memberdayakanwanita

#wanitaindonesia

#wanita

#ibukartini

Newest
You are reading the newest post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *