HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

SUAMI DIGANGGU WANITA DARI MASA LALU

 


CURHAT: Saya dan suami sudah menikah 15 tahun. Kami dikarunia dua orang putri yang sudah menginjak usia praremaja dan remaja.
 

Sejauh ini rumah tangga kami berjalan dengan baik. Meski beberapa tahun yang lalu, karena suatu masalah, rumah tangga kami sempat terguncang hebat. Ketika itu saya sempat mengajukan gugatan cerai. Namun saat mediasi kami bisa berdamai dan berkas di Pengadilan Agama ditarik.

Sejak saat itu hubungan kami membaik. Suami sudah menunjukkan sikap lebih hati-hati dalam segala. Dia sudah makin perhatian kepada anak-anak dan istri, lebih bertanggung jawab dan lebih bijak.

Suatu hari saya dengar suami menerima telepon dari temannya dan suara suami agak keras. Ketika saya tanya ada apa, dia jelaskan panjang lebar. Yang menelepon itu teman kuliahnya dulu. Seorang pria yang saat ini sudah menjadi seorang pejabat tinggi di daerah. Dia khusus menelepon untuk menyampaikan pesan dari teman kuliah mereka, tapi beda jurusan, seorang wanita yang dulu naksir berat suami saya.

Jadi wanita itu suaminya sudah meninggal dan dia juga memiliki jabatan tinggi di sebuah instansi. Rupanya wanita itu ingin sekali bertemu dengan suami saya. Menurut suami saya, dia sudah beberapa kali minta pertemanan di FB tapi tidak pernah ditanggapi oleh suami saya. Dan sudah beberapa kali minta bantuan teman-temannya yang berteman dengan suami di FB, untuk menyapaikan salam dan pesan  agar suami mau bertemu denganya.

Puncaknya teman suami yang menelepon itu, dia minta tolong sekali agar suami mau menemui teman wanita itu. Karena wanita itu, katanya, tidak bisa melupakan suami saya. Dia hanya ingin mengobrol dengan suami saya, karena katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan kepada suami saya.

Karena teman baiknya itu menelepon hanya untuk menyampaikan pesan wanita itu, maka suami saya marah besar. Dia naik darah karena temannya itu mau membantu orang yang mau mengganggu rumah tangga kami.

Saya hanya diam mendengar penjelasan suami. Saya menghargai sikap suami yang tidak menanggapi godaan wanita dari masa lalunya itu. Karena dia sudah tahu pasti begitu ditangggapi, taruhannya adalah keutuhan rumah tangga kami.

Kami pernah mengalami rumah tangga hampir hancur dan itu perlu waktu lama untuk mengembalikan keutuhan rumah tangga kami. Perlu usaha khusus untuk mengembalikan rasa percaya satu sama lain. Suami berusaha untuk tidak membuat kesalahan lagi, jadi dia menghidar dari sumber gangguan.

Saya merasa wanita itu hanya terobsesi pada suami saya. Dia sudah berhasil meraih apa yang dia inginkan dalam hidupnya: jabatan tinggi, kehidupan serba ada dan sebagainya. Hanya satu yang belum dia peroleh: menjadi pasangan dari pria impiannya.

Suami sudah menceritakan tentang wanita itu secara detail, siapa dia dan mengapa dia sangat terobsesi dengan suami saya. Bahkan pernah mengajak suami untuk kawin lari, karena ketika itu ayahnya tidak menyetujuai hubungan mereka.
 

Rupanya setelah ayah dan suaminya meninggal, dia merasa punya peluang untuk mengejar pria yang selama ini dia impikan. Dia tidak peduli pria itu sudah berkeluarga, sudah memiliki anak dan sebagainya. Bagi dia yang penting keinginan dia harus terpenuhi. Seperti anak kecil yang ingin mainan, tidak akan berhenti merengek sebelum mainan yang dia mau dia dapat.

Namun, suami tidak menanggapi karena suami mengaku sejak dulu sesungguhnya tidak terlalu sreg dengan wanita itu. Mereka sempat jalan beberapa waktu, karena wanita itu terus mengejar dia.  Padahal, kata suami saya, banyak pria yang suka pada wanita itu, karena memang dia cantik, anak orang kaya dan dari keluarga terpandang. Tapi perasaan kan tidak bisa dipaksakan, begitu kata suami berulang kali.

Jadi saya selalu sabarkan suami untuk hadapi wanita itu. Tidak perlu ditanggapi, apalagi dengan emosi. Karena makin ditolak biasanya wanita obsesif itu makin nekad dan tidak lagi peduli dengan etika ataupun rasa malu.

Meskipun saya berani dan bisa dengan mudah mencari wanita itu, saya tidak pernah terpikir untuk menemuinya. Misalnya, untuk mengingatkan dia agar tidak mengganggu suami saya. Karena menurut saya, wanita itu yang punya masalah dengan dirinya sendiri, jadi kenapa saya harus ikut repot?

Pertanyaan saya, apakah sikap saya ini sudah benar? Mohon saran dan masukannya. Terimakasih banyak.

Celina - Jakarta   

 

SARAN: Kami bersimpati dengan masalah yang sedang Anda hadapi. Sekaligus juga  salut dengan sikap Anda juga suami.
 

Pada dasarnya, semua rumah tangga itu ada kesamaannya, sama-sama pernah menghadapi masalah. Tidak ada satupun rumah tangga yang bebas dari ujian. Yang membedakan hanyalah bagaimana cara menghadapinya.
 

Tampaknya Anda dan suami sudah belajar dari pengalaman terdahulu. Rumah tangga hampir hancur, namun dengan upaya bersama, rumah tangga Anda bisa kembali utuh dan berjalan dengan lebih baik.

Menanggapi wanita yang obsesif memang tidak mudah. Apalagi bila dia memiliki power: apakah itu berupa jabatan ataupun finansial yang kuat. Dia akan menggunakan semua kekuatannya itu untuk meraih apa yang dia inginkan.
 

Namun jangan khawatir, sikap Anda dan suami sudah benar. Tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Betul kata Anda: yang punya masalah kan dia. Dia merasa belum lengkap hidupnya sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan, terutama keinginan dari masa lalunya.

Tetaplah dukung suami pada setiap aktivitasnya. Jaga kekompakan Anda bersama suami dalam menghadapi semua masalah rumah tangga. Juga dalam menghadapi wanita masa lalu suami ini. Bergandengan tanganlah dengan erat dalam menghadapinya.  Jangan pernah tunjukkan sikap Anda mencurigai suami. Dia sudah berupaya untuk menghindar dari rayuan wanita itu, hargai dan hormati sikapnya itu.
 

Selain itu, ingatkan kepada suami untuk selalu waspada pada undangan untuk reuni dari komunitas dimana wanita itu ada di dalamnya. Karena bisa jadi event itu menjadi ajang pertemuan dengan wanita itu. Dan bisa dipastikan, ketika bertemu dengan suami Anda, dia akan melakukan hal-hal yang diluar nalar, yang mungkin bisa menjadi sumber fitnah untuk Anda sekeluarga.

Kami berharap, suami Anda juga menyadari bahwa memiliki dua orang anak gadis adalah tanggung jawab yang sangat besar bagi seorang ayah. Dia harus bisa mendidik dan memberikan contoh yang baik sebagai seorang ayah dan seorang pria. Saran kami, sesekali ingatkan suami bahwa setiap tindakannya akan berefek kepada anak-anaknya.

Bila memungkinkan, saat mengobrol santai dengan anak-anak gadis Anda, ingatkan untuk menjadi wanita yang beretika, senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarga. Karena bagaimana pun cantik, sukses dan kayanya Anda, bila tidak memiliki etika dan tidak menghargai orang lain, maka semua itu tidak ada artinya.

Selain melakukan langkah-langkah preventif pada ‘serangan’ dari luar, selalu berdoa agar suami Anda  senantiasa dilindungi dari gangguan manusia-manusia berahlak rendah dan tidak bertanggungjawab di sekitarnya. Dan keluarga Anda selalu dalam lindungan Tuhan YME. Tetap semangat!***

Foto: Felipe Cespedes/Pexels


CURHAT:email majalahwanita8@gmail.com


#gangguanwanitamasalalu
#gangguanrumahtangga
#wanitadarimasalalu
#gangguan
#rumahtangga
#wanita
#masalalu

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *