HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

SULITNYA MEMAAFKAN SAHABAT YANG PERNAH BERKHIANAT

 

CURHAT: Hari Raya sudah berakhir, tapi saya punya masalah yang sulit untuk saya selesaikan.

Untuk itu saya beranikan diri membuat email ini. Semoga saya dapat pencerahan yang membuat hidup saya lebih nyaman.

Saya wanita 35 tahun, masih single. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup berkembang.

Persoalan saya berawal dari beberapa tahun yang lalu. Saya masih bekerja di perusahaan lama, saya mendapat promosi jabatan menjadi kepala bagian. Tentu saja hal ini sangat menggebirakan saya dan keluarga.

Saya berusaha menjalani jabatan baru ini dengan sebaik-baiknya. Saya bahkan rela pulang sampai larut malam, membereskan pekerjaan saya.

Di kantor itu saya punya seorang sahabat wanita, dia satu bagian dengan saya. Kami bisa jadi sahabat karena punya hobi yang sama. Kami sama-sama suka naik sepeda, suka berburu makanan enak dan suka masak.

Ketika saya naik jabatan, dia kelihatan ikut gembira. Tapi pelan-pelan dia mulai menghindari saya. Kalau saya ajak sepedaan di akhir pekan dia menolak dengan berbagai alasan. Padahal sebelumnya tidak pernah menolak. Juga saat saya ajak coba makanan baru di dekat kantor, dia bilang lagi ada kerjaan.

Sampai suatu hari saya tanya kenapa dia bersikap begitu? Dia jawab, “Kamu kan sekarang sudah jadi bos, saya nggak bisa sembarangan main sama kamu,” katanya. Saya jelaskan itu kan cuma profesi di pekerjaan, selebihnya saya tetap sahabat kamu.

Tapi tampaknya dia sudah berubah total, hingga saya tidak bisa memaksa. Tanpa saya mau hubungan kami jadi renggang. Saya pun berusaha fokus pada pekerjaan saya.

Sampai suatu hari saya dipanggil atasan saya, dia mengintrogasi semua kegiatan saya. Dan intinya, saya dicurigai menggunakan fasilitas kantor untuk pribadi. Sehingga saya diminta mempertanggungjawabkan. Walau saya membantah dengan keras tuduhan itu, atasan saya tetap tidak mau dengar. Dia bilang, dia punya bukti-bukti.

Saya pun dipindahkan ke bagian lain. Meskipun jabatan saya masih sebagai kepala bagian, tapi di bidang yang sangat tidak saya sukai. Saya sebetulnya sangat tidak senang, tapi untuk keluar kerja saya belum siap.

Belakangan saya dengar dari teman-teman kalau yang mengadukan saya ke atasan adalah mantan sahabat saya itu. Dia mengirim email ke atasan saya, isinya menjelekkan saya dan memfitnah saya kalau saya menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi. Herannya bos saya langsung percaya.

Setelah beberapa waktu saya akhirnya mengundurkan diri dan pindah ke perusahaan yang lebih mapan. Dan saya mendapat kedudukan yang lebih baik dari kantor sebelumnya.

Saya pun berusaha melupakan mantan sahabat saya itu. Kami tidak pernah kontak lagi.

Sampai beberapa hari lalu, menjelang Lebaran ada WA masuk dari dia. Dia mengucapkan selamat Hari Raya dan minta maaf. Terus terang saya sangat terkejut. Dia tiba-tiba nongol dan minta maaf.

Masalahnya, saya masih merasa sakit hati dengan apa yang sudah dia perbuat kepada saya. Saya merasa dikhianati dan karier saya dihancurkan olehnya.

Sampai saya mengirim email ini, saya belum menjawab WA dia. Apa yang harus saya lakukan? Salahkan saya kalau saya tidak bisa memaafkan dia?

Mohon saran.

Terimakasih banyak.

Elena D – Bandung

SARAN: Momen Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Bisa jadi mantan sahabat Anda itu sudah menunggu beberapa waktu, untuk sampai berani mengirim WA minta maaf kepada Anda.

Bisa dimengerti Anda sulit untuk memaafkan dia, karena Anda yang begitu percaya padanya sebagai seorang sahabat, ternyata diam-diam dia menikam dari belakang. Bisa jadi motifnya dia melakukan hal itu adalah karena rasa iri atau sirik. Anda berhasll mencapai kedudukan sebagai kepala bagian, sedangkan dia tidak.

Pertanyaan Anda salahkan saya kalau tidak memaafkan dia? Anda tidak salah dan tidak benar, karena meminta maaf dan memberi maaf adalah hak seseorang. Walau dalam agama mana pun meminta maaf dan memberi maaf sangat dianjurkan.

Namun ada yang perlu Anda sadari, apakah Anda merasa nyaman menyimpan dendam pada teman Anda tersebut? Bukankah semua sudah berlalu, tidak ada yang bisa Anda ubah dari masa lalu itu. Anda sekarang sudah meninggalkan perusahaan lama Anda dan berkarier di perusahaan baru yang lebih baik kondisinya.

Kalau mau berfikir positif, berkat teman Anda itulah Anda memperoleh kedudukan Anda sekarang. Kalau dia tidak menfitnah Anda, mungkin Anda tetap menjadi karyawan di perusahaan lama. Dengan kata lain, tanpa ia dan Anda sadari, teman itu sudah mendorong Anda untuk lebih maju, untuk mendapat masa depan yang lebih cerah.

Jadi, kenapa harus mendendam? Semestinya Anda bersyukur. Yakinlah, dengan memaafkan dia, Anda akan merasa lebih lega. Hidup Anda akan lebih nyaman.

Sebaliknya, bila Anda tidak menyambut permintaan maafnya, berarti Anda masih menyimpan marah, jengkel dan dendam. Bayangkan, Anda seperti sedang berjalan dengan menarik-narik beban berat yang sebetulnya isinya hanya “sampah”.

Mumpung masih suasana Lebaran, segeralah jawab WA teman Anda tersebut. Tanyakan kabarnya. Bahwa Anda akan meneruskan hubungan menjadi teman atau sahabat kembali, semua Anda yang menentukan.

Boleh jadi Anda memaafkan kesalahannya, tapi Anda merasa tidak bisa lagi menjadi sahabat bahkan teman, karena Anda sudah tidak bisa mempercayai dia lagi. Hal itu  tidak masalah. Yang penting, Anda sudah memaafkan dia dan beban hidup Anda  sekarang sudah berkurang.

Memang, meminta maaf itu lebih mudah daripada memaafkan.

Karena saat Anda memaafkan seseorang, Anda harus dengan iklas menerima semua hal pahit yang pernah Anda alami. Dan juga harus rela membuang dan memusnahkan dari pikiran dan batin Anda. Perlu waktu, tapi bukan berarti tidak mungkin.***   

Foto: Pexels/Liza Summer

#memaafkanteman

#beratnyamemaafkan

#salingmemaafkan

#indahnyamemaafkan

#memaafkan

#maaf

CURHAT email:majalahwanita8@gmail.com

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *