HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

DIMANFAATKAN TEMAN

 

CURHAT: Saya wanita lajang yang sedang mencoba berbisnis sendiri. Sejauh ini bisnis saya berjalan cukup baik.Meski kondisi pandemi omset menurun, namun saya tetap bersyukur usaha saya masih bisa jalan. 

Setidaknya saya tetap bisa menggaji 3 karyawan saya tepat waktu. Dan saya juga berterimakasih pada karyawan saya yang bisa memahami kalau tahun ini tidak ada kenaikan gaji dan bonus. Intinya kami mencoba terus  bertahan  dalam kondisi serba sulit seperti sekarang ini.

Masalah saya adalah, saya memiliki beberapa teman yang juga memiliki bisnis. Mereka bidang bisnisnya berbeda dengan saya, tapi tidak jarang mereka minta bantuan saya. Awalnya sebagai teman saya dengan senang hati membantu mereka.

Hal yang paling mereka harapkan adalah memberikan saran dan bimbingan bagaimana cara pemasaran yang efektif. Sampai mereka bisa jalan lagi bisnisnya yang sempat tersendat. Lalu ada juga yang dengan terang-terangan minta dibantu carikan distributor. Mereka minta saya merekomendasikan rekan bisnis saya untuk jadi distributor mereka.

Semua saya bantu dengan harapan mereka juga akan bantu saya ketika saya perlu. Namun ternyata pada kenyataannya sebaliknya.

Pada saat  saya sedang ada masalah keuangan, saya mengontak beberapa  teman yang sudah pernah saya bantu. Saya meminjam uang untuk waktu yang tidak lama, karena ada materi  yang harus saya beli segera supaya produksi tetap bisa tepat waktu. Jawaban mereka  rata-rata sama, “Aduh hari gini siapa sih yang punya uang nganggur? Maaf semua uang gua masih muter.”

Saya jadi berfikir, selama ini saya bantu mereka tanpa pamrih karena sebagai teman. Saya tidak minta bayaran ketika mereka minta bimbingan. Juga  saya tidak minta bagian ketika proyek mereka dengan investor yang saya rekomendasikan berhasil. Tapi ketika saya minta bantuan kok mereka seragam bersikap seperti itu?

Saya merasa, mereka hanya menempatkan saya sebagai “sang penolong” bukan orang yang perlu ditolong. Padahal, ada saatnya saya juga perlu pertolongan. Kemana saya minta bantuan kalau tidak ke teman yang pernah saya tolong?

Saya jadi sedih dan merasa hanya dimanfaatkan oleh teman-teman baik saya. Karena selama ini saya selalu siap membantu ketika mereka sedang ada masalah. Tapi ketika saya punya masalah mereka seperti menghindar .

Apa yang harus saya lakukan  untuk selanjutnya agar tidak lagi  dimanfaatkan teman seperti ini? Apakah saya perlu menghindari mereka dan tidak lagi berteman dengan mereka?

Mohon sarannya. Terimakasih banyak.

Ellen – Bintaro

SARAN: Simpati untuk Anda yang masih tetap bertahan berbisnis dalam kondisi serba sulit seperti sekarang ini. Masalah Anda masalah klasik yang selalu ada dalam periode apa pun dalam kehidupan ini.

Anda adalah manusia berjiwa penolong. Anda senang kalau bisa menolong orang. Sifat Anda inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki sifat kurang baik.

Mereka melihat kebaikan dan ketulusan hati Anda sebagai peluang. Peluang untuk dimanfaatkan. Mereka  tahu Anda memiliki jiwa sosoal tinggi. Mereka juga tahu pasti Anda  tidak tegaan orangnya. Semua bantuan  pasti gratis karena Anda tidak akan sampai hati minta bayaran ke teman yang Anda bantu. Bahwa teman menjadi nyaman lagi hidupnya, sudah membuat Anda senang.

Anda adalah sang dewi penolong. Image atau citra seperti itu yang sudah tertanam di benak teman-teman Anda.  

Yang perlu Anda sadari adalah: teman-teman Anda tidak memiliki sifat yang sama dengan Anda, setidaknya mereka yang pernah Anda bantu.

Mereka tidak memiliki jiwa sosial, mereka tidak memiliki empati dan mereka tidak bersedia menolong tanpa pamrih seperti Anda. Akibatnya, ketika Anda minta bantuan, mereka akan menolok. Karena mamang mereka tidak memiliki jiwa menolong.

Mungkin Anda bertanya, lalu saya gak boleh menolong orang lagi? Karena pasti orang akan memanfaatkan saya?

Mungkin solusinya tidak seekstrim itu. Yang perlu Anda pahami dahulu adalah jangan berharap orang akan sebaik Anda.

Anda tetap bisa menolong orang, tapi sejak awal jangan berharap orang yang Anda tolong itu akan membalas pertolongan Anda.

Tetaplah menolong orang dengan tulus dan tanpa pamrih. Yakinlah, ketika Anda perlu pertolongan, ada pihak lain yang akan menolong Anda. Itu adalah hukum alam semesta yang selalu bekerja otomatis. Anda suka menolong akan ditolong saat Anda dalam kesulitan.  Sebaliknya, Anda yang suka merugikan orang, akan dirugikan di lain waktu.

Lalu bagaimana bersikap dengan teman yang sudah mengecewakan Anda itu? Sebaiknya tetaplah berteman seperti biasa. Bergaul sebagai teman seperti tidak ada masalah sebelumnya. Tapi jangan pernah berbisnis dengan mereka!

Jadi, mulailah Anda memilah antara hubungan sebagai teman dan sebagai hubungan bisnis. Ketika masuk dalam ranah bisnis, Anda harus bisa tegas pada diri sendiri: bisnis ya bisnis. Anda harus profesional. Anda menjadi bagian dari proses bisnis yang ada keuntungannya, maka Anda juga berhak minta bagian keuntungan.

Sampaikan secara jelas di muka, bahwa karena ini urusannya bisnis maka Anda pun harus menerapkan sistem bisnisnya. Mungkin awalnya mereka akan merasa aneh, kok yang tadinya Anda paling ringan membantu sekarang sudah lebih komersial.

Tenang saja bila menghadapi sikap teman yang bilang. “Ya teman masa pakai bayaran?”  Anda bisa jawab dengan santai. “Teman ya teman, bisnis ya bisnis. Supaya jelas aja, gak ada konflik dikemudia hari. Nggak enak kan hanya karena  rupiah tak seberapa, pertemanan  yang sudah puluhan tahun jadi rusak.” ***

 Foto:Pexels/Andrea Piacquadio

#dimanfaatkanteman

#sukabantutemantapidimanfaatkan

#temanhanyamemanfaatkan

#agartakdimanfaatkanteman

#bantuteman

#menolongteman

#pertemanan

#teman

CATATAN:SAMPAIKAN CURHAT ADA KE EMAIL:majalahwanita8@gmail.com

SUBJECT:CURHAT

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *