HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

BERPARTNER BISNIS DENGAN PASANGAN

 

CURHAT:

Saya dan kekasih sudah menjalin hubungan lebih dari 2 tahun. Kami merencanakan untuk meresmikan hubungan sekitar tahun depan.

Sebelumnya kami berkerja di satu perusahaan, namun berbeda dIvisi. Karena perusahaan menerapkan peraturan tidak memperbolehkan suami istri satu kantor, sehingga saya memutuskan untuk mundur.

Kebetulan saya memiliki minat di bidang bisnis.  Saya sudah lama ingin memiliki bisnis sendiri, yakni menjadi konsultan interior khusus untuk apartemen. Alhamdulillah bisnis saya berjalan cukup baik.

Baru-baru ini calan suami mengaku sudah jenuh bekerja di perusahaan tersebut. Dia juga ingin memiliki bisnis sendiri. Namun dia masih belum tahu mau berbisnis apa. Kebetulan dia selama ini bekerja di bidang keuangan, sehingga lebih banyak bekerja untuk perusahaan milik orang lain.

Sebetulnya, saya ingin menawarkan kepada dia untuk bergabung dengan usaha saya. Jadi kami bisa menjadi partner bisnis. Mungkin kami bisa membangun usaha bersama. Menurut saya, daripada saya mencari partner orang yang belum saya kenal, akan lebih aman kalau saya berkerjasama dengan pasangan sendiri.

Namun, saya juga ada khawatir bila ternyata muncul konflik dalam urusan bisnis, malah akan membuat hubungan kami menjadi terancam keutuhannya.

Saya ingin tahu, apakah baik  pasangan menjadi partner bisnis?  Bagaimana pembagian tugasnya, agar tidak ada yang merasa menjadi atasan dan lainnya jadi bawahan? Juga pembagian keuntungan dan sebagainya?

Mohon sarannya segera. Terimakasih banyak bantuannya.

Widya Thapsari – Bandung

 SARAN:

Sebelumnya saya ucapkan salut kepada Anda yang berani mengambil keputusan keluar dari kerja dan membangun usaha sendiri. Perlu keberanian khusus untuk menjadi pengusaha, apalagi pada masa pandemi saat ini.

Menjalin kerjasama bisnis dengan pasangan, apakah itu kekasih, tunangan ataupun suami, adalah hal yang baik. Karena berpartner bisnis harus dengan orang yang Anda percaya. Dan pasangan tentu adalah orang yang Anda percaya. Dan lagi berbisnis dengan pasangan, selain ada rasa saling percaya tentu ada juga unsur saling dukung dan saling mengisi satu sama lain.  

Namun, namanya bisnis, meski dengan pasangan,  tidak bisa dijalankan hanya dengan .’perasaan‘. Tetap harus ada  unsur profesionalisme di dalamnya.

Begitu Anda menawarkan calon suami untuk berpartner, maka Anda sudah harus siap bicara secara profesional kepada dia. Anda dan dia harus siap memisahkan antara urusan bisnis dengan hubungan asmara atau hubungan suami istri, bila nanti Anda berdua sudah menikah.

Masalah modal dan pembagian tugas harus jelas sejak awal, agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Masalah tugas, misalnya, Anda sebagai direktur SDM dan marketing dengan tugas dan tanggung jawab bla...bla...bla. Sedangkan si dia direktur keuangan dan pengembangan bisnis yang tugasnya ini dan itu  Dengan tanggung jawab dan kewajiban tersebut, maka hak yang akan diperoleh dicantumkan: gaji, bonus, fasilitas dsb.

Sangat disarankan perjanjian lengkap dengan detail butir-butir hak dan kewajiban dibuat secara tertulis dan bila memungkinkan disahkan di depan Notaris.

Semoga dengan mempersiapkannya secara baik di depan, maka selanjutnya kerjasama bisnis dengan calon suami diharapkan bisa berjalan dengan baik. Kalaupun ada konflik akan lebih mudah diatasi, karena sudah ada aturan mainnya yang jelas.

Selamat berbisnis dan selamat menyambut hidup baru.***

Foto ilustrasi: Unsplash/Krakenimages

#berbisnisdenganpasangan

#pasanganbisnis

#kerjasamadenganpasangan

#berbisnisdengankekasih

 

Catatan: Kirimkan CURHAT Anda ke email: majalahwanita8@gmail.com

Subject: CURHAT

  

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *