HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

PROF. DR. DEWI FORTUNA ANWAR Resep Tetap Aktif & Pernikahan Langgeng

 

Dia salah satu wanita hebat Indonesia. Seorang ilmuwan, peneliti utama pada kajian politik luar negeri Indonesia dan ASEAN di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Indonesia). Hingga saat ini, masih  menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center. 

Di usianya yang menjelang tujuh dasawarsa, Prof. Dewi Fortuna Anwar, masih tetap aktif bekerja di kantornya di BRIN dan melakukan perjalanan ke mancanegara untuk menghadiri beragam undangan. 

Bagaimana beliau bisa mempertahankan kinerjanya hingga tetap aktif dan produktif diusianya yang  tahun ini menginjak usia 68 tahun? Dan apa resep pernikahannya tetap harmonis hingga 43 tahun? Serta apa kegiatan menyenangkan yang beliau lakukan saat waktu luang?

Berikut obrolan hangat www.majalahwanita.com dengan Prof. Dewi di sebuah Sabtu sore, di kediamannya yang nyaman dan asri di Cireundeu, Tangsel. 

Harus Selalu Update 

Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Maritime Security Advisory Network in Brussels & Berlin.
Prof. Dewi dengan ramah menyambut kedatangan majalahwanita. Wajahnya terlihat segar dan berseri. Padahal baru beberapa hari beliau kembali dari Brussels dan Berlin, menghadiri serangkaian pertemuan. 

Ketika ditanya apa resepnya sehingga beliau masih tetap bisa aktif sebagai peneliti ahli utama di BRIN? 

Dengan gaya bicara khasnya, tegas dan tempo suara yang cepat, Prof. Dewi yang pernah  beberapa kali menduduki jabatan struktural sebagai Eselon 1 (yang mana hal ini sangat jarang bisa dicapai wanita Indonesia), menjelaskan,

“Saya menjabat sebagai Eselon 1 di Setneg tahun 1998-1999. Lalu Eselon 1 di LIPI pada tahun 2001-2010, selanjutnya Eselon 1 di Sekretariat Wakil Presiden, Setneg tahun 2010 sampai tahun 2017. Kemudian saya kembali menjadi peneliti di LIPI tahun 2018, menjelang usia saya 60 tahun.”

Menurut UU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas IPTEK) No.19 tahun 2019, Peneliti Ahli Utama pensiun pada usia 70 tahun, sebelumnya pada usia 65 tanun. Dan LIPI digabung dalam BRIN pada tahun 2021. 

“Dan pada tahun 2017 sampai  Agustus 2018 saya menjadi Profesor Tamu di RSIS NTU Singapura,” jelas Prof. Dewi, yang pernah menjabat sebagai Asisten Wapres bidang Globalisasi untuk Wapres B.J. Habibie pada awal tahun 1998. Dan setelah Pak Habibie menjadi Presiden, wanita yang menyukai model rambut pendek yang praktis ini, menjadi Asmensesneg Urusan Luar Negeri/ Jubir Presiden pada tahun 1998 sampai 1999. 

Lalu bagaimana beliau mempertahankan kinerjanya hingga saat ini? “Jaga kesehatan fisik dan mental. Dan tetap terus belajar,” tegasnya. “Apalagi kalau kita bergerak di bidang akademis, berarti kita harus selalu update dan  berkarya. Tetap memiliki kemampuan untuk berkarya, untuk menulis paper, untuk publikasi karya dan menjadi pembicara. Ya kan itu pekerjaan seorang peneliti dan seorang akademis seperti itu, selama tidak pikun,” tambahnya.

Menurut Prof. Dewi, apalagi sekarang ini dengan kemajuan teknologi, banyak sekarang pertemuan-pertemuan seminar, tidak perlu dihadiri secara fisik lagi. Bisa lewat online, zoom, pakai macam-macam platform sekarang. “Orang yang secara fisik nggak bisa bergerak pun tetap bisa berkarya kan? Dan sekarang kalau mencari informasi, kita cukup berselancar di dunia maya saja kan? Ada virtual library dan bisa mendapatkan artikel dan sebagainya,” ungkap Prof. Dewi yang meraih gelar doktornya di Monash University, Melbourne, Australia. 

Sempat Sekolah di Kampung

Kunjungan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Maritime Security Advisory Network (MSAN) ke Brussels & Berlin, 19-25 April 2026.

Kedua orang tuanya adalah akademisi yang pernah menjadi dosen bahasa Inggris di IKIP Bandung, ayahnya  Prof. Dr. Khaidir Anwar, seorang ahli sosiolingustik dan sang Ibunda Dra. Wahidar Khaidir, MLS, dosen di IKIP, Bandung.  Sang ayah juga pernah mengajar pada School of Oriental and African Studies, University  of London di Inggris, selama sepuluh tahun. Dengan membawa seluruh keluarganya, istri dan ketiga anak perempuannya.

Prof. Dewi, adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan menghabiskan sekolah menengah, juga menempuh pendidikan sarjana dan magister di London, Inggris.

Meski demikian, dia tidak pernah melupakan kampung halaman kedua orangtuanya di Sumatra Barat. Betapa tidak, Dewi kecil sempat  tinggal di kampung cukup lama, “Saya tinggal di kampung, namanya Koto Kociak, Tujuh Koto Talago, Kabupaten 50 Koto, sekitar 10 tahun. Saya SD kelas 1 sampai kelas 6 di Koto Kociak dan SMP kelas 1 sampai kelas 3 di SMP Dangung-Dangung,” jelasnya. 

“Bukan atas suruhan orangtua, tapi karena saya memang mau. Jadi saya di kampung tidak hanya bersekolah biasa, tapi juga belajar tentang adat dan agama,” tambahnya. Dan putri sulungnya, Laraswati juga sempat mengenyam pendidikan di kampung saat SD kelas 3 sampai kelas 6.

Dengan bersekolah di kampung, ia jadi paham dengan akarnya. Darimana dia berasal dan bagaimana adat istiadat kampung halaman orang tuanya. “Jadi kita tahu akar kita, karena itu yang penting. Ibu saya bilang, ‘Pohon yang kuat itu akarnya harus dalam, jadi dia kokoh. Pohon yang kokoh, kalau kena angin tetap bertahan, tetapi pucuknya tetap bisa menjulang,’ demikian Prof. Dewi mengulang pesan sang ibudanda tercinta. Sebuah filosofi hidup yang sangat dalam maknanya.   

“Saya diajari ibu saya harus berani, punya rasa percaya diri dan melihat semua budaya itu ada plus minusnya. Dan kalau kita belajar dengan benar tentang budaya kita, maka kita bisa menghargai budaya kita. Tapi kita juga jangan fanatik terhadap budaya kita. Yang penting kita harus tahu siapa diri kita, punya akar yang kuat, sehingga tidak mudah diombang-ambing, tidak mudah terbawa arus pergaulan. Dan harus bisa menempatkan diri, pulang kampung penting ke luar negeri juga penting. Kalau masuk kampung jangan grogi, kalau ke London atau New York juga jangan grogi. Jadi, jangan jadi orang udik di New York, jangan jadi orang New York di kampung.” 

Ibu dua orang anak yang keduanya sudah menikah ini, lalu memberi contoh. Ketika tinggal di London, ia tetap bergaul dengan teman-temannya yang datang dari mancanegara. Ia tetap datang ke pesta atau nongkrong di kafe. Namun, Dewi yang menghabiskan masa remaja dan dewasanya di London, tidak pernah mau ikut minum, berdansa-dansi dan sebagainya. Begitu juga saat bulan Ramadan, meski berkumpul dengan teman-temannya di kafe, ia tidak ikut makan.Tentu saja dia dianggap kolot oleh teman-temannya. “Kok kamu kolot?” Dituduh demikian, ia tidak marah, malah dengan santai menjawab, “Ya saya memang kolot. Itu prinsip saya. Tapi bukan berarti kampungan. Kita nggak boleh salah pegang garpu dan sendok, table manners tetap harus belajar, tapi ada prinsip-prinsip yang harus dipegang, yaitu agama!” tegasnya. 

Kegiatan Menyenangkan Saat Waktu Luang

Tetap aktif sebagai profesor peneliti utama di BRIN
Di tengah kesibukannya, Prof. Dewi tetap bisa mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang menyenangkan. 

“Saya suka baca novel juga nonton fim,”ungkapnya santai. “Saya senang menonton film-film klasik di Youtube. Juga baca novel  di iPad. Selain itu, saya main puzzle juga teka-teki silang di iPad. Pokoknya, saya bisa asyik sendiri dengan iPad saya,” ungkapnya. 

Bagaimana dengan olah raga? “Sebetulnya saya senang jalan kaki ya, tapi karena di sini  tidak memungkinkan,  jadi di rumah saya aerobik ringan,  low impact yang saya lihat dari Youtube.”

Suka memasak atau berkebun? “Wah saya tidak suka kegiatan domestik,” sahutnya dengan tawa.  Kalau sedang berdua dengan suaminya, Yos Rizal Anwar, seorang engineering yang berkarier di perminyakan, yang sibuk memasak sang suami. “Sedang saya hanya menjadi asisten,” katanya tertawa.

“Di keluarga kami memang yang jago memasak para pria. Sedang wanitanya yang mencicipi hasil masakannya,” ungkap Prof. Dewi. 

Sesekali  saat sedang penat, dia bersantai dengan menikmati pijatan pemijat langganannya.  Bagaimana dengan  belanja? “Saya belanja sesuai kebutuhan saja. Kalau sedang keluar negeri, terutama Korea Selatan, saya selalu mencari skin care yang bagus tapi tidak terlalu mahal.”

Kalau sedang berada di luar negeri Prof. Dewi lebih senang kemana-mana berjalan kaki. Dan selalu menyempatkan mengunjungi museum-museum. “Saya sangat senang mengunjungi museum-museum saat berada di luar negeri, karena bisa belajar banyak tentang budaya suatu bangsa melalui museum itu,” tuturnya. 

Resep Pernikahan Langgeng

Tahun ini, pernikahan Prof. Dewi dan suami tercinta tepat 43 tahun. Dia merasa beruntung memiliki pasangan hidup yang sangat mendukung kariernya. 

“Bayangkan, saat anak pertama saya masih usia 1 tahun, saya melanjutkan S3 di Australia. Suami tidak berkeberatan. Dia harus menjadi single parent selama sekian lama. Memang sih saya pulang pergi Indonesia- Australia, tapi tetap saja lebih banyak waktu kami berpisah.  Kebetulan juga ada Etek (Tante) dari  kampung, yang bersedia tinggal di rumah kami, menjaga anak kami dan ikut mengawasi di rumah. Beruntung kami selalu dapat ART yang bisa diandalkan. Tanpa ada dukungan keluarga dan adanya ART akan sulit sekali.”

Lalu apa resep penikahannya yang langgeng dan harmonis? Nenek satu cucu ini menjawab tegas, “Trust!” Ya, saling percaya menurut Prof. Dewi, sangat penting dalam pernikahan. 

Menurutnya, kalau tidak ada saling percaya, akan sulit pernikahan bertahan. Ia banyak bekerja di lingkungan yang lebih banyak pria daripada wanita. Kalau suaminya tidak percaya padanya, cemburu, posesif yang berlebihan, tentu akan  berantakan. Demikian juga, saat ia mengambil pendidikan S3 di Australia, meninggalkan suaminya dalam waktu lama. Godaan itu sangat banyak. 

“Jadi kunci pertama adalah trust. Tanpa trust hal itu tidak bisa. Yang kedua agama. Itu penting sekali. Begitu juga dalam jabatan, yang amanah. Apakah kita akan menyalahgunakan posisi kita atau tidak. Itu kan tergantung dari dalam diri kita. Bukan sekadar mengikuti aturan yang berlaku,” ungkapnya. 

Rupanya, dengan memegang prinsip-prinsip penting itulah, yang membuat rumah tangga Prof. Dewi dan suami tercinta tetap harmonis hingga saat ini. Kebetulan saat  menjelang sang suami purna bakti dari Mobil Oil, mereka yang semula tinggal di Bekasi, mencari rumah yang bisa mewujudkan impian mereka: memiliki halaman cukup luas, ada pohon buah-buahan, tanaman hias serta gemericik kolam ikan hias. Dan itu semua ada di  tempat tinggal mereka saat ini, sejuk, asri dan bisa cukup menampung, saat ada acara keluarga besar. Sangat menyenangkan.***Marlini Hasan

Foto-foto: Dok. Pribadi 

#prof.dr.dewifortunaanwar
#profrisetBRIN
#thehabibiecenter
#BRIN

Newest
You are reading the newest post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *